Media Berita Online
Indeks

Dapur SPPG Parungkuda Diresmikan, Deputi Badan Gizi Nasional Tinjau Standar Kelayakan

Metrojabaronline.com // Sukabumi, – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Parungkuda resmi diresmikan dalam kegiatan yang berlangsung khidmat di halaman Masjid Jami’ Darussa’adah, Desa Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jumat (13/3/2026).

Peresmian dapur tersebut dirangkaikan dengan santunan anak yatim piatu serta buka puasa bersama, menghadirkan suasana kebersamaan dan kepedulian sosial di bulan suci Ramadan.

Kegiatan ini dihadiri Deputi Penyediaan dan Penyaluran Badan Gizi Nasional Brigjen (Purn) Suardi Samiran, Kapolsek Parungkuda AKP Erman, Danramil 0607-12/Parungkuda Kapten Arm Andriyono, Camat Parungkuda Asep Sumantri, Kepala Desa Bojongkokosan Dini, Kepala Puskesmas Parungkuda dr. Bagus, para kepala sekolah, serta unsur TNI-Polri, tenaga kesehatan, dan tokoh masyarakat.

Ketua Yayasan Sukabumi Sukses Sejahtera Mandiri (3SM), Lela Sumirat, mengatakan keberadaan Dapur SPPG Parungkuda diharapkan mampu mendukung program pemenuhan gizi masyarakat sekaligus menjadi sarana pemberdayaan masyarakat di wilayah Parungkuda.

“Semoga dapur ini dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat serta mendukung program pemerintah dalam pemenuhan gizi yang lebih baik,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Deputi Badan Gizi Nasional Brigjen (Purn) Suardi Samiran juga melakukan peninjauan langsung ke dapur SPPG guna memastikan standar pelayanan, kebersihan, dan kelayakan operasional telah terpenuhi.

Ia menyampaikan bahwa secara umum kondisi dapur sudah cukup baik dan telah memiliki sertifikat layak kesehatan serta didukung tenaga sanitarian. Namun demikian, masih terdapat beberapa catatan yang harus segera diperbaiki oleh pengelola.

“Tadi ada beberapa hal yang harus diperbaiki dan sudah kami sampaikan. Jika tidak diperbaiki, maka dapur tersebut tidak boleh dioperasikan,” tegasnya.

Menurutnya, pengelolaan dapur SPPG harus mengikuti petunjuk teknis yang telah ditetapkan. Apabila ditemukan pelanggaran terhadap aturan tersebut, pihaknya tidak segan melakukan pemeriksaan dan audit.

Ia berharap program pemenuhan gizi ke depan lebih mengedepankan kualitas agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para peserta didik.

“Yang paling penting adalah kualitas, bukan sekadar kuantitas. Mutu yang baik akan memberikan dampak besar bagi tumbuh kembang anak-anak,” pungkasnya.

(Den)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *