Pewarta : Ghalih Chahyadi / Editor : PNS

Metrojabaronline.com // Sumedang, – Budaya Sunda merupakan salah satu pilar penting dalam kebudayaan nasional Indonesia. Di dalamnya tersimpan bukan hanya nilai estetika yang indah, tetapi juga ajaran moral, etika, serta tata kehidupan sosial yang telah menjadi pedoman masyarakat Sunda dari generasi ke generasi.
Namun di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi, serta perubahan gaya hidup masyarakat modern, eksistensi bahasa Sunda menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Menurunnya minat generasi muda terhadap budaya daerah menjadi perhatian serius, sehingga diperlukan upaya nyata untuk menjaga dan melestarikannya.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan bahasa dan budaya Sunda, PGRI Cabang Kecamatan Rancakalong Kab, Sumedang Jabar menyelenggarakan kegiatan Saresehan Basa Sunda dengan tema “Bagea Ngariung, Akur Sauyunan.” Kegiatan yang digelar di Geotheater 16 Mei 2026, kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta, terdiri dari para guru dan insan pendidikan yang tergabung dalam PGRI Kecamatan Rancakalong.
Mengusung subtema “Sunda Bihari, Kiwari, Jeung Baring Supagi,” acara ini menjadi ruang refleksi tentang perjalanan bahasa Sunda dari masa lalu, kondisi saat ini, hingga harapan untuk masa depan.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Asisten Daerah (Asda) Dr. Dian Sukmara, M.Pd., Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Ketua PGRI Kabupaten Sumedang, Drs, H Pepen Supendi M.pd, di dampingi wakil ketua PGRi Sumedang Dian Nugraha M.pd, Camat Rancakalong Deni Nurdani Supandi, S.TTP Kapolsek Rancakalong AKP Ahmad Sahidin, S.H., serta perwakilan Koramil Rancakalong. Kehadiran para pejabat dan tokoh pendidikan ini menunjukkan dukungan kuat terhadap upaya pelestarian bahasa dan budaya Sunda.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, Dr. Roni Hidayat, S.S.Sn., M.Pd., Andri Nurdiansyah, M.Pd., dan Ahmad Suya, dengan Adang Sukmansyah, S.Pd. bertindak sebagai host.
Dalam pemaparannya, Ahmad Suya menekankan pentingnya memahami undak-usuk basa Sunda, yaitu tingkatan bahasa yang mencerminkan sopan santun, tata krama, serta penghormatan kepada lawan bicara. Menurutnya, bahasa Sunda tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cermin karakter dan identitas budaya masyarakat Sunda.
Kegiatan ini menjadi momentum yang sangat berharga. Selain tergolong langka, saresehan ini juga memberikan wawasan mendalam tentang hakikat bahasa Sunda yang sesungguhnya.
Para peserta memperoleh pemahaman baru yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Sunda.
Melalui kegiatan ini, PGRI Cabang Kecamatan Rancakalong menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga warisan budaya leluhur. Harapannya, bahasa Sunda tetap hidup, berkembang, dan semakin dicintai oleh generasi muda sebagai bagian penting dari identitas bangsa Indonesia.
***