
Metrojabaronline.com // Jakarta Selatan,— Momen penuh haru dan kebanggaan menyelimuti prosesi Wisuda Sarjana dan Pascasarjana yang digelar Universitas Islam Jakarta (UIJ) di Gedung Balai Sudirman, Tebet, Rabu (8/4/2026). Di antara ratusan wisudawan yang dikukuhkan, sosok Mohammad Ihsan, S.H., M.H., menjadi salah satu yang menarik perhatian.
Tak hanya sebagai wisudawan, Mohammad Ihsan juga dikenal sebagai Ketua Umum FORKKABI (Forum Komunikasi Kaum Betawi Indonesia), sebuah organisasi yang aktif memperjuangkan aspirasi masyarakat Betawi. Kehadirannya dalam balutan toga bukan sekadar simbol kelulusan, tetapi juga penegasan komitmen baru dalam mengemban amanah hukum dan sosial.
Prosesi berlangsung khidmat sejak pagi hari. Para wisudawan satu per satu dikukuhkan dalam Sidang Senat Terbuka, disaksikan keluarga dan kerabat yang turut merasakan kebahagiaan atas capaian tersebut. Namun, bagi Ihsan, momen ini memiliki makna yang lebih dalam.
“Alhamdulillah, ini bukan hanya tentang gelar yang saya peroleh hari ini, tetapi tentang perjalanan panjang yang penuh perjuangan, doa, dan pengorbanan. Saya menyadari bahwa setiap langkah dalam pendidikan ini adalah amanah, dan hari ini amanah itu semakin besar,” ungkap Mohammad Ihsan dengan penuh rasa syukur.

Ia menegaskan bahwa gelar Sarjana dan Magister Hukum yang kini disandang bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar, khususnya dalam memperjuangkan keadilan di tengah masyarakat.
“Sebagai insan hukum, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk hadir di tengah masyarakat, bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari solusi. Hukum harus berpihak kepada kebenaran dan keadilan, bukan kepada kepentingan tertentu. Ini yang akan saya pegang teguh ke depan,” tegasnya.
Sebagai Ketua Umum FORKKABI, Ihsan juga menyoroti pentingnya peran hukum dalam menjaga hak-hak masyarakat, khususnya masyarakat Betawi yang menjadi bagian dari identitas Jakarta.
“Masyarakat Betawi harus tetap menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri. Dalam konteks hukum, ini berarti kita harus memperjuangkan keadilan secara adil dan berimbang. Saya ingin ilmu yang saya dapatkan ini bisa memberikan manfaat nyata, bukan hanya untuk organisasi, tetapi juga untuk masyarakat luas,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa dunia hukum saat ini menghadapi tantangan besar, mulai dari persoalan integritas hingga kepercayaan publik.

“Kita tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak persoalan dalam penegakan hukum. Oleh karena itu, generasi muda harus hadir membawa perubahan. Kita harus berani menjaga integritas, tidak tergoda oleh kepentingan sesaat, dan tetap berdiri di atas prinsip keadilan,” tambahnya.
Sementara itu, pihak Universitas Islam Jakarta melalui jajaran pimpinan menekankan bahwa wisuda merupakan awal dari pengabdian nyata kepada bangsa dan negara. Para lulusan diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai keilmuan, moral, dan integritas dalam setiap langkahnya.
Acara wisuda berlangsung dengan penuh khidmat, ditutup dengan suasana haru saat para wisudawan saling berpelukan dengan keluarga. Momen tersebut menjadi penanda berakhirnya satu fase kehidupan dan dimulainya fase baru yang penuh tantangan dan harapan.
Di tengah kebahagiaan itu, sosok Mohammad Ihsan tampil sebagai representasi generasi yang tidak hanya mengejar gelar akademik, tetapi juga membawa visi perjuangan sosial dan hukum. Dengan latar belakang sebagai tokoh Betawi dan kini sebagai sarjana hukum, Ihsan diharapkan mampu menjadi jembatan antara nilai tradisi dan penegakan keadilan di era modern.
Wisuda ini pun bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum penting yang mengingatkan bahwa setiap gelar yang disematkan membawa konsekuensi: sebuah amanah besar untuk menjaga keadilan, memperjuangkan kebenaran, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Yus